Tampilkan postingan dengan label Asal Usul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asal Usul. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 06, 2009

Valentine days

Pada masa Roma Kuno (sebelum datangnya Kristus), terdapat beberapa tradisi yang diselenggrakan pada bulan februari (nyaris semuanya sekarnag dah ga ada lagi). Beberapa perayaan itu antara lain :

· Tradisi yg disebut perayaan Lupercalia (dirayakan pada tanggal 15 Februari). Plutarch, pernah menulis demikian :

“Lupercalia, of which many write that it was anciently celebrated by shepherds, and has also some connection with the Arcadian Lycaea. At this time many of the noble youths and of the magistrates run up and down through the city naked, for sport and laughter striking those they meet with shaggy thongs. And many women of rank also purposely get in their way, and like children at school present their hands to be struck, believing that the pregnant will thus be helped in delivery, and the barren to pregnancy.” (males nerjemahin neh :P )

Nah, kata Lupercalia sendiri berasal dari bahasa latin, Lupus yang berarti seekor serigala. Jadi ada kemungkinan jika perayaan ini mempunyai hubungan dengan legenda Romulus dan Remus.

· Festival utk memperingati Juno, yang disebut Juno Februa. Kata ini berarti “Juno sang pembersih” atau “Juno yang murni. Festival ini diadakan antara tanggal 13-14 Februari. Yang menarik adalah, festival ini disebut2 sebgai pengganti festival Lupercalia.

· Festival Candlemas yang awalnya diadakan tanggal 14 Februari, tetapi akhirnya dipindah tgl 2 Februari. Festival ini telah diadakan di Jerusalem semenjak tahun 381 SM.

· Valentine’s Day





Mari sekarang kita membahas asal-usul Val’s Day. Nama Valentine, diduga berasal salah satu dari 3 nama Santo yang menjadi martir di zaman Romawi. Tetapi, dari 3 santo itu, hamper dapat dipastikan, jika nama “Valentine” berasal dari nama seorang santo yg hidup di masa pemerintahan kaisar Claudius II (meninggal tahun 270). Perayaan ini utk pertama kalinya diakui secara sah pada tahun 496 oleh Pope Gelassius I. Menurut kisahnya, Santo ini menjadi salah seorang yang menentang kebijakan kaisar Caludius yang melarang pernikahan di usia muda (karena saat itu Roma sedang perang, sehingga prajurit yang memiliki keluarga akan menghambat perekrutan prajurit baru). Peraturan ini tak lain diciptakan utk merekrut prajurit muda yang lebih baik (otomatis, jika seorang prajurit telah memiliki keluarga, maka ia akan mengalami degresi kualitas). Santo Val’s, yang menyadari adany ketidakadilan dalam peraturan ini, segera menolak. Ia tetap melakukan pemberkatan nikah pada orang2 muda secara diam2. Ketika akhirnya perbuatan ini diketahui oleh Sang Kaisar, Santo Val’s pun dipenjara. Ia dijatuhi vonis hukuman mati (cerita laen menyebutkan jika ia dibunuh utk mencegah orang2 Kristen dimasukkan penjara di mana mereka akan mengalami penyiksaan berat).

Selama masa penantian hukuman mati itulah, ia mengenal seorang gadis cantik; yang ternyata adalah putri dari sipir penjara. Alkisah, akhirnya ia pun jatuh cinta dengan sang gadis. Gadis itu - yang diyakini sampai selama ini- terus menerus mengunjungi Santo Val’s secara rutin. Sebelum kematian menjemputnya (karena ia akhrinya dieksekusi), Santo Val’s mengirimi sang gadis sebuah surat. Di dalam suratnya itu ia menulis “From Your Valentine”. Beberapa waktu kemudian, orang2 yang telah berhutang budi padany sepakat utk memperingati rasa simpatik, heroic, dan sisi romantisme Santo Val’s. Perayaan itu yg samapi sekarang kita kenal sebgai hari Valentine. Nah, pada hakikatnya, perayaan ini dimaksudkan utk memperingati sifat2 Santo Val’s, bukan utk memperingati sang subjek sendiri. Terkadang, pengertian ini sering disalahartikan oleh sebagian orang. Beberapa mengira jika Hari Valentine adalah hari besar agama tertentu…Padahal ini salah besar….Memang, Santo Val’s adalah orang Katolik, tetapi, esensi dari perayaan ini utk mengenang jasa2nya….Sama halnya jika kita merayakan jasa seorang pahlawan. Esensi dari perayaanny adalah utk mengenang jasa2nya, terlepas dari kualitas2 yg menyusun si subjek……Tapi, masalah setuju atau engga, say amah tergantung ijtihad orang aj….Tp ya mbok agak mikir dikitlah, jangan sekedar ikut2. Saya juga ga setuju ma orang yg ngrayain Val’s Day, tanpa tau latarbelakangnya, pokokny Cuma tau hedon nya aj….Tp, saya lebih ga setuju lagi ama orang2 yang mengatasnamakan suatu dogma tertentu utk menolak Val’s Day, padahl mereka udah salah kaprah dalam menafsirkan sebuah esensi dari perayaan itu.



Baca selengkapnya......

Senin, Desember 22, 2008

Mengapa Cincin Kawin Ditaruh di Jari Manis?

Ikuti langkah berikut ini, Tuhan benar-benar membuat keajaiban (ini berasal dari kutipan Cina)

1.Pertama, tunjukkan telapak tangan anda, jari tengah ditekuk ke dalam (lihat gambar)

2.Kemudian, 4 jari yang lain pertemukan ujungnya.

3.Permainan dimulai , 5 pasang jari tetapi hanya 1 pasang yang tidak terpisahkan…

4.Cobalah membuka ibu jari anda, ibu jari menwakili orang tua, ibu jari bisa dibuka karena semua manusia mengalami sakit dan mati. Dengan demikian orang tua kita akan meninggalkan kita suatu hari nanti.

5.Tutup kembali ibu jari anda, kemudian buka jari telunjuk anda, jari telunjuk mewakili kakak dan adik anda, mereke memiliki keluarga sendiri, sehingga mereka juga akan meninggalkan kita.

6.sekarang tutup kembali jari telunjuk anda, buka jari kelingking, yang mewakili anak-anak. cepat atau lambat anak-anak juga akan meninggalkan kita.

7.selanjutnya, tutup jari kelingking anda, bukalah jari manis anda tempat dimana kita menaruh cincin perkawinan anda, anda akan heran karena jari tersebut tidak akan bisa dibuka. Karena jari manis mewakili suami dan istri, selama hidup anda dan pasangan anda akan terus melekat satu sama lain.

Benerkan??? Keren bangetttt……Kebetulan atau nggak, yang pasti ini benar-benar jadi inspirasi, so, berbahagialah yang sudah memiliki pasangan. Karena itu diambil dari tulang rusuk-mu yang berharga. Have A Nice Day!

Baca selengkapnya......

Asal usul nama INDONESIA

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch- Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung, Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: … the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch- Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Makna Politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.



Baca selengkapnya......

Tukul Arwana

ASAL USUL TUKUL ARWANA ( MASA EVOLUSI WONG NDESO KE KOTA )

NAMA NDESO : Tukul Riyanto
NAMA KOTA : Tukul Arwana
NAMA SOK KEREN : Reynaldi
TEMPAT TANGGAL LAHIR : Semarang, kelahiran 16 Oktober, 1963

SEJARAH TUKUL BERDASARKAN : http://id.wikipedia.org/wiki/Tukul_Arwana

MASA MUDA


Lontang-lantung di kontrakan di bilangan Blok S Jakarta Selatan Tukul banyak dibantu Joko Dewo dan Tony Rastafara untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan, Tukul menikah dengan gadis berdarah Padang bernama Susi dan mempunyai anak semata wayang, bernama Vita.

Setelah menikah, Tukul dan keluarga tinggal di sebuah kontrakan di daerah Cipete Utara. Sampai akhirnya Tukul melamar kerja di Radio Humor Sk dan bekerja di sana bersama rekan pelawak yang lain seperti Bagito, Patrio, Ulfa dan lain-lain, setelah sebelumnya sempat menjadi sopir pribadi untuk menafkahi keluarganya.


KARIR

Nasib mujur Tukul semakin mengental ketika diajak main Lenong Rumpi oleh Ramon Tommybens. Dan titik balik karir Tukul mencuat ketika menjadi pendamping Joshua di video klip Air dengan icon diobok-obok-nya.

Nama Tukul Arwana semakin melambung ketika TPI mempercayakannya Tukul menjadi Host acara musik "Aduhai" dan Acara "Dangdut Ria" di Indosiar. Dan namanya kian melesat sekarang ini ketika TV7 Mempercayakan menjadi Host Talks show Empat Mata.

Jika dulu Tukul tinggal di kontrakkan, sekarang Tukul sudah memiliki 3 rumah kontrakkan dan 2 rumah besar di Cipete Utara. Di rumahnya Tukul mengumpulkan teman-teman seniman pelawak dari daerah dan membuat markas kecil ajang tukar pikiran dan meramu ide kreatif lawakan. Markas kreatif ini dinamakan Posko Ojo Lali.

Zaman susah tukul arwana: malu pulang kampung, memilih miskin di jakarta
source : http://www.bintang-indonesia.com/content.php?catid=18


“Selama bertahun-tahun saya ini 'kan sering ditipu atau diremehkan orang. Dari situ saya pelajari karakter orang-orang tersebut sesuai zodiaknya. Zodiak ini karakternya ini dan tuanya akan seperti apa. Ternyata ramalan saya banyak benarnya juga,” urai Tukul menutup pembicaraan.


sebelum wawancara untuk rubrik ini, pelawak Tukul Arwana (43) yang tengah siap-siap untuk syuting Empat Mata (Trans 7) pada Selasa (9/1) di kawasan Pancoran, Jakarta, meluangkan waktu untuk memberi wejangan pada kru Empat Mata. Benang merah dari wejangan pelawak yang kariernya tengah berkilau ini seputar meraih sukses di Jakarta. ”Kalau kita tak berusaha mengubah strategi kita dalam menjalani hidup, hidup kita tak akan pernah berubah menjadi lebih baik. Apalagi kita hidup di Jakarta,” Tukul memberi nasihat. Tukul memang contoh orang desa yang sukses di Jakarta. Bagaimana tidak. Tukul yang awal datang ke Jakarta tak punya apa-apa, kini telah bergelimang harta. Ia memiliki bisnis Ojolali Entertaiment yang menyediakan dangdut, badut, campursari, dan aneka hiburan lain, dan bisnis kontrakan. Desember tahun lalu, Tukul baru membeli motor Harley Davidson yang harganya ratusan juta. ”Iya ini memang motor saya. Sebulan lalu saya membelinya,” urai Tukul pelan. Bercanda atau tidak, Tukul bilang kekayaannya yang kini dimiliki cukup untuk 7 turunan. Kalau dilihat dari intensitas kemunculannya di teve yang sangat tinggi, dan acara off air-nya banyak, bisajadi kekayaaanTukul memang tak akan habis untuk 7 turunan. Beberapa persen dari kekayaannya, Tukul selalu menyisihkan untuk satu pesantren di Semarang, kampung halamannya. ”Itu cara untuk membersihkan harta yang saya punya,” urai Tukul.

tukul arwanaMeski telah bergelimang harta, Tukul tak lupa akan keluarga. Ia tetap menomorsatukan istri dan anaknya. Lantaran itu Tukul tak pernah sediki pun berniat menelantarkan istri dan anak dengan menikah lagi. Poligami, baginya, lebih banyak susahnya daripada senangnya. ”Belajar dari pengalaman teman-teman, poligami enaknya setahun sampai 2 tahun saja. Setelah itu yang ada sulit terus,” ujar Tukul. Tukul berterus terang, belakangan ini banyak wanita cantik yang mengejar dirinya minta dinikahi. ”Cantik-cantik, tapi saya selalu menolaknya. Saya yakin sekali itu semua cobaan buat saya,” terka Tukul. Tukul percaya, cobaan lain pasti akan mengujinya. ”Saya ini 'kan orang yang siap menerima bintang, bukan mengejar bintang. Karena siap menerima bintang, mudah-mudahan saya tetap rendah hati dan tidak lupa diri. Lagian saya ini bekerja dari nol. Dan saya yakin selagi saya ingat dengan asal-usul saya (orang miskin), saya yakin akan tetap rendah hati,” urai Tukul yang karier kian berkilau lepas memandu acara Empat Mata.

Untuk mencapai seperti sekarang ini Tukul memang dari nol. Tukul yang berasal dari keluarga miskin sering merasakan pahitnya hidup. Bermodalkan juara lawak di beberapa lomba lawak, Tukul ingin seperti idolanya, Srimulat, yang sukses di Jakarta. Gayung bersambut. Joko Dewo, teman Tukul yang berada di Jakarta meminta Tukul merantau ke Jakarta. Pria berambut cepak ini tergiur dengan segala janji yang diberikan Joko Dewo. Pada tahun 1985 ia memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta. ”Keyakinan saya semakin besar karena Joko menjanjikan saya masuk televisi dan menjadi pelawak terkenal,” kata Tukul.Setibanya di Jakarta dan mengetahui kondisi Joko, keinginan Tukul untuk jadi pelawak terkenal, sempat pupus. Ternyata Joko yang awalnya ingin jadi tumpuan hidup Tukul hidup pas-pasan, bahkan masih numpang dengan Tony Rastafara, mantan pentolan grup Reggae Rastafara, kontrak rumah petak. Tony yang kala itu masih menjadi pengamen jalanan jadi tumpuan Tukul. Untuk makan, Tukul harus menunggu Tony pulang ngamen. ”Biasanya saya menunggu Tony di warung setiap hari menjelang jam 11 malam. Kalau melihat Tony turun dari bajaj, wajah saya langsung berubah gembira. Kayak nunggu orangtua saja. Soalnya Tony akan menraktir saya makanan enak-enak,” urainya. Tapi pernah ia harus menelan ludah karena Tony pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Padahal seharian Tukul belum makan. Untuk urusan baju, ia juga sering meminjam baju Tony. Bahkan kalau Tony tengah mendapat rezeki lebih, ia suka dibelikan baju baru. ”Pokoknya jasa-jasa Tony tak pernah bisa saya lupakan,” ucap Tukul. Tony juga sering memberi nasihat dan keyakinan bahwa dirinya bisa menjadi pelawak hebat. Hidup terlunta-lunta di Jakarta,Tukul tak tahan dengan kenyataan pahit hidup di Jakarta. Ia pun memutuskan pulang ke Semarang. Beberapa bulan kemudian, Tukul nekad kembali ke Jakarta. Kali ini ia mulai berani ngontrak rumah. Tukul menagih janji Joko Dewo agar dirinya bisa masuk televisi. Dari sinilah mulai ada ketidakcocokan. “Tony menengahi, agar kami mengambil jalan sendiri-sendiri dalam merenda karier. Joko beralih kerja, Tony terus ngamen, tinggal saya seorang dirinya yang tidak tahu harus berbuat apa?” kenang Tukul. Untuk menyambung hidup, ia jualan baju. Tapi ini tidak bertahan lama karena sering dibohongi pembeli.Tukul lantas jadi kuli bor sumur pantek. “Ini pekerjaan yang berat banget buat saya,” katanya. Tak tahan dengan pekerjaan tersebut, pria kelahiran 16 Oktober 1963 ini beralih menjadi supir. Padahal kala itu ia tidak hapal jalan-jalan Jakarta. Dengan modal peta Jakarta, Tukul mengantar majikannya. Selama 4 tahun ia menjadi supir pribadi, selama itu pula keinginan Tukul tetap membara untuk jadi pelawak. Di tengah kesibukannya jadi supir Tukul masih sering bertemu Tony. Ia sering membantu membawakan sound system Tony yang kala itu kariernya mulai naik daun. Tony yang memberikan nama Arwana di belakang nama Tukul. “Arwana itu 'kan ikan yang dipelihara oleh orang-orang kaya. Tony berharap saya bisa kaya kelak, makanya saya diberi nama itu,” ujarnya. Tukul juga sering ikut kasting, tapi dibohongi terus.

Pada tahun 1994, Tukul benar-benar putus asa. Ia sudah lelah merintis karier. Ia sudah tak yakin bisa jadi pelawak terkenal, apalagi bisa masuk teve. “Banyak yang memberikan harapan-harapan manis pada saya. Soal kontrak, masuk teve, soal iklan dll. Tapi semuanya bohong. Saya juga sering ditipu dan sering diremehkan. Karena sering dibohongi, rasa-rasanya sekarang sulit kalau ada yang membohongi saya,” jelas Tukul. Kala itu, ia berniat pulang kampung dan mengubur dalam-dalammimpinya untuk jadi pelawak terkenal. Pasalnya, saat itu Bagito Grup lagi ngetop-ngetopnya. “Pelawak yang laku hanya yang berwawasan luas, sedangkan saya tradisional, fisik,” guraunya. Tapi saat itu juga Tukul tersadar. Di kampung ia akan tinggal dengan siapa? Semua saudaranya miskin. “Daripada malu pulang kampung, saya memilih miskin di Jakarta. Kalau di Jakarta, orang-orang kampung tidak tahu kalau saya miskin,” ujar Tukul. Saat dalam keputusasaan itu, seberkas sinar harapan datang kala Nini Chandra mengajak Tukul show ke luar kota. Di luar dugaan, lawakannya mendapat sambutan bagus di sana. Dari sini semangat Tukul untuk melawak kembali membara. Tukul makin bersemangat setelah bertemu dengan Ramon Tomiband, pemilik Komedi Kafe. Tukul curhat pada Ramon. Ramon menasihati Tukul agar tidak putus asa. Ramon memberi Tukul sebuah buku psikologi. Setelah membaca buku itu semangat Tukul kembali kobar-kobar. Tukul kembali diberi buku Berpikir Positif dan Berjiwa Besar, karya Norman Phil. Dari baca buku itu Tukul tahu bagaimana cara mempromosikan diri.



Meski perekonomiannya belum membaik, Tukul nekad menyunting Susiana jadi istrinya pada tahun 1995. Beberapa bulan kemudian, Tukul menjual cincin kawin dan barang berharga lainnya untuk menyambung hidup. Awal-awal pernikahan, rumah tangga Tukul penuh cobaan. Untuk makan saja sering utang sana sini. Tukul kembali ragu dunia lawak bisa menjadi topangan hidup bagi keluarganya. Untung semangat Tukul tak pernah luntur. “Tekad saya, pulang harus bawa duit, kalau tidak istri saya mau makan apa?” ucap Tukul. Tukul yang kala itu kerja di Radio SK sering gali lobang tutup lobang untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. ”Kontrak rumah sebulan 150 ribu, sedang gaji saya di radio SK 75 ribuan,” kenang Tukul. Pernah saat berangkat ke Radio SK, Tukul naik bus yang kerneknya teman sekampungnya.Tukul pun gratis.”Saat itu saya senang banget dan uangnya saya kasih istri saya untuk belanja. Padahal uangnya cuma 300 rupiah,” cerita Tukul.

Karier Tukul mulai bersinar pada tahun 2002. Tukul sering muncul di beberapa teve swasta. Meski porsinya kecil, tapi sering muncul di mana-mana. Tukul bisa beli rumah, beli mobil, ikut asuransi, dan deposito. Tukul tak mempermasalahkan untuk mencapai kesuksesan ia harus melewati jalan berliku. “Hidup itu praktek, bukan teori. Kalau hidup itu teori, keberhasilan hanya jadi angan-angan. Alhamdulillah sekarang untuk 7 turunan sudah aman,” jelas Tukul. Seiring dengan kesuksesan yang diraihnya, cobaan menerpa Tukul. Banyak cewek cantikyang suka Tukul, bahkan ada yang minta dinikahi. “Alhamdulillah saya tidak tergoda dan tidak mau tergoda.Saya bisa mengontrol diri. Bagaimana pun kesuksesan saya ini ada andil dari keluarga,” urai Tukul.

Baca selengkapnya......

Sepak Bola


Sepak bola
atau Soccer (lebih dikenal sebagai "football" diluar Amerika) sudah ada semenjak lama. Maksudnya bener-bener lama. Menurut the National Soccer Hall of Fame and Museum, sepakbola muali dikenal di masa Mesir kuno, Dinasti Ts'in di China, dan orang-orang Indian di Amerika tahun 1600-an.

Sampe sekarang banyak yang percaya kalo orang Inggris lah yang menemukan pemainan ini,tapi menurut apa yang kita temukan, orang Cina lah yang pantas disebut penemunya. Televisi Canada minta kepada presiden FIFA Sepp Blatter untuk secara resmi mengakui bahwa orang Cina sudah bermain bola semenjak "seribu tahun yang lalu." Malah mungkin lebih kuno lagi. Menurut artikel cerdas ini, sejarawan sudah nemuin bukti bahwa permainan ini berasal semenjak 2,000 tahun yang lalu.

FIFA.com akhirnya mau memikirkan hal ini lebih dalam. Permainan bola tingkat awal yang dinamakan "cuju" punya banyak kemiripan dengan sepakbola modern dengan tim, aturan, kejuaraan, dan stadion. Permainan ini "menjadi idola diantara penguasa maupun rakyat jelata," dan seiring berjalanya waktu, berevolusi menjadi fenomena dunia.

Walopun begitu masih ada sati pertanyaan mengganjal -- siapa sih yang mulai dengan kata-kata "soccer"? Akhirnyae Mavens' Word of the Day yang selalu bisa kita andelin bilang bahwa orang-orang Inggris lah biang keroknya. "Pembikinan nama resmi dari permainan ini menjadi soccer adalah Association football." Mavens menerangkan bahwa kata "soccer" itu adalah sebuah bahasa slang dari "(As)soc(iation football)" dan ditambahi akhiran "er" .



Baca selengkapnya......

Kamis, November 27, 2008

Serasa Ditindih

Barusan seorang temen curhat via YM, katanya dia sering mimpi buruk pas tidur . Bingung juga ngejelasinnya. Yang aku tau istilahnya TINDIHAN , apa sih tindihan itu ??
Nih hasil gugling nya ...

Banyak di antara kita pernah mengalami masalah "tindihan" saat sedang tidur. Leher rasanya seperti dicekik, dada terasa sesak, badan tak bisa bergerak, berteriak pun tak mampu dan biasanya disertai penampakan mahluk halus. Gejala apakah ini? Apakah benar kita sedang "ditumpangi" mahluk lain? Apakah kita "diganggu" mahluk dari dunia lain? Terlepas dari benar tidaknya masalah tersebut, tulisan ini mencoba menilik "tindihan" dari sisi ilmiah dan penjelasan logis.

Serba-Serbi Tindihan :


A. Definisi Tindihan

Secara Mitologi, "Tindihan" adalah pengalaman seseorang "ditumpangi" atau "diduduki" dan "diserang mahluk halus.

Secara ilmiah dikenal dengan istilah "Isolated Sleep Paralysis" (ISP). Biasanya terjadi pada saat tidur baru saja dimulai. Seorang individu yang mengalami tindihan alias ISP akan merasakan seperti terjaga dalam keadaan sadar, tetapi tidak mampu bergerak atau menggerakkan anggota tubuhnya, tidak mampu berbicara/teriak dan tidak mampu menangis. Seringkali disertai perasaan cemas dan ketakutan yang hebat, sehingga berusaha untuk "bangun" tapi tidak bisa dan tidak berdaya. Mereka yang mengalami ISP, dilaporkan mengalami mimpi buruk dan halusinasi, melihat keberadaan "mahluk" dari dunia lain.

B. Gejala-gejala ISP

Kondisi ini sering terjadi pada individu yang tidur dengan posisi terlentang, wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak dalam tidurnya atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur. Dapat berlangsung hanya dalam beberapa detik atau lebih lama. Seringkali disertai perasaan "sesuatu yang mengerikan" menekan daerah leher atau dada, sehingga mengalami kesulitan nafas, tak mampu berteriak dan bergerak. Banyak yang menyebutnya sebagai "teror di tengah malam".

Rasa sesak dan seperti dicekik muncul karena dalam tahap R.E.M terjadi ketidaksinkronan antara lalu lintas udara dalam sistem pernafasan dengan tingkat kesadaran seseorang.

Sedangkan rasa takut, yang sering divisualisasikan sebagai keberadaan mahluk lain, diduga dialami seorang individu karena sedang berusaha mengatasi dan mengindentifikasikan rasa takut dan teror yang disimpannya dalam kehidupan nyata.

Seorang peneliti ISP, Al Cheyne dari University of Waterloo, menduga bahwa ISP adalah sejenis halusinasi yang dialami seorang individu, karena adanya malfungsi dari tahap R.E.M (Rapid Eye Movement) dalam tidur seseorang. Malfungsi ini bisa disebabkan oleh stres, kelelahan fisik luar biasa dan kurang tidur. Ia juga menemukan fakta bahwa ISP selalu terjadi pada orang-orang yang tidur terlentang. Menurutnya , mengubah-ubah posisi tidur dapat mengurangi resiko terserang ISP.

Diperkirakan setiap orang pernah mengalami ISP, sekali atau dua kali dalam hidupnya. Mereka yang sering mengalami tekanan psikis dan fisik akan lebih banyak mengalami ISP. Kondisi geologis dan lingkungan kerja juga dapat mempengaruhi seseorang sehingga mengalami "tindihan." Misalnya mereka yang bekerja dalam shift lalu kekurangan tidur dan memiliki pola tidur yang tidak teratur. Beberapa penelitian bahkan menemukan, perasaan positif yang sangat kuat, seperti jatuh cinta atau setelah melakukan hubungan seks, dapat pula menyebabkan ISP.

Saat ini penelitian juga diarahkan kepada pengaruh keadaan geomagnetik dan/atau keadaan geologis terhadap fenomena ISP. Para peneliti mengemukakan teori, bahwa orang-orang yang tinggal di kawasan yang secara geologis aktif, seperti di daerah sekitar Samudera Pasifik, yang dikenal sebagai "Ring of Fire", lebih sering mengalami ISP.

C. ISP dalam Berbagai Budaya

C1. Indonesia Dikenal dengan istilah "Tindihan" (baca : ditekan/ditindih). Menurut kepercayaan Jawa Kuno, tindihan disebabkan oleh naiknya roh-roh halus dari tempat penyimpanan air di bawah tanah ke bawah tempat tidur seseorang.
C.2. Spanyol Orang-orang Spanyol menyebutnya "Pesadilla" dengan penjelasan serupa dengan "Tindihan".
C.3. Jepang "Kanashibari" demikian mereka menyebutnya. Peneliti masih berusaha menemukan kaitan letak geologis Jepang di kawasan pasifik dengan fenomena tindihan.

D. Pencegahan dan Cara Mengatasi

D.1. Stres
Usahakan hidup sehat, baik secara fisik maupun psikis. Stres diduga penyebab terbesar ISP. Atur pola tidur menjadi lebih teratur. Jangan makan dalam jumlah kebanyakan, minum alkohol/kafein dan merokok menjelang tidur, sehingga dapat mengganggu pola tidur.
D.2. Posisi Tidur
Posisi tidur terlentang diduga menjadi salah satu penyebab ISP. Usahakan ganti-ganti posisi tidur.
D.3. Membuat Gerakan Kecil
Beberapa orang menyarankan untuk membuat gerakan mata dengan cepat, agar dapat keluar dari situasi ISP.
D.4. Membuat Gerakan Mental
Jika seseorang mengalami ISP, ia akan merasakan susah bergerak atau menggerakkan anggota tubuhnya. Padahal ini bukan pergerakan fisik yang sebenarnya, melainkan gerakan mental. Para ahli menganjurkan untuk terus berusaha "melawan" dan menggerakkan anggota tubuh melalui kekuatan pikiran.

Baca selengkapnya......

Pengikut